Lelaki yang Berlindung di Balik Kabut
Entah sudah berapa langkah ia berlari. Menembus semak belukar. Berlari menuju hutan gelap dan kabut tebal. Melewati tebing dan terjal. Mengarungi sungai-sungai kecil yang terlihat tenang. Namun ombak berkerjaran menerpanya. Ia terus berlari entah kemana. Tak peduli cadas dan duri menusuk kakinya. Ia berusaha menyelamatkan diri dari teriakan orang-orang yang mengejarnya.
Lelaki itu bersembunyi di balik rerimbunan semak belukar. Dengan dengus nafas yang perlahan dan ditahan. Ia bisa mendengar pekikan orang-orang bersenjata itu. Dan akhirnya orang-orang itu memutuskan untuk turun menyeberangi lembah.
Di balik sebatang pohon, ia mengintip ke arah ladang di mana mereka sedang berlarian dengan terburu-buru seperti sekawan anjing liar yang akan menerkam mangsanya tanpa ampun. Seperti sosok serigala dari balik kabut-kabut tebal di perbukitan. Lambat laun sosok mereka menghilang ditelan kabut yang muncul tiba-tiba dari langit biru berhias bulan dan bintang-bintang. Kabut menyembunyikan mereka dari pandangan matanya.
Lelaki itu menyusuri semak belukar di kaki bukit, mencoba memintas ke seberang bukit. Ia membayangkan semangkuk kuah hangat dan segelas kopi buatan istrinya. Ia membayangkan istrinya yang tengah berdiri mematung. Menyambutnya dengan senyum yang tersungging dari bibirnya. Ia membayangkan rambut istrinya itu yang ikal bergelombang.
Lelaki itu berlari lagi.
Lelaki itu bersembunyi di balik rerimbunan semak belukar. Dengan dengus nafas yang perlahan dan ditahan. Ia bisa mendengar pekikan orang-orang bersenjata itu. Dan akhirnya orang-orang itu memutuskan untuk turun menyeberangi lembah.
Di balik sebatang pohon, ia mengintip ke arah ladang di mana mereka sedang berlarian dengan terburu-buru seperti sekawan anjing liar yang akan menerkam mangsanya tanpa ampun. Seperti sosok serigala dari balik kabut-kabut tebal di perbukitan. Lambat laun sosok mereka menghilang ditelan kabut yang muncul tiba-tiba dari langit biru berhias bulan dan bintang-bintang. Kabut menyembunyikan mereka dari pandangan matanya.
Lelaki itu menyusuri semak belukar di kaki bukit, mencoba memintas ke seberang bukit. Ia membayangkan semangkuk kuah hangat dan segelas kopi buatan istrinya. Ia membayangkan istrinya yang tengah berdiri mematung. Menyambutnya dengan senyum yang tersungging dari bibirnya. Ia membayangkan rambut istrinya itu yang ikal bergelombang.
Lelaki itu berlari lagi.
***
Ia tercekat ketika sebuah suara senapan laras panjang menggaduh di angkasa. Membuat suara binatang malam membias bisu. Tercekat ketika suara burung hantu memecah di keheningan. Suara burung hantu bagaikan sosok malaikan pencabut maut. Mencabik jantung dan nyawa setiap manusia.
Laki-laki itu tersaruk-saruk berlari di kerumunan kabut tebal. Ia terus berlari hingga kabut memudar. Kini ia bisa sedikit menenangkan pikirannya yang membuncah. Tetapi tiba-tiba didengarnya seekor burung gagak memekik di dahan sebuah pohon yang cabangnya menjulur ke arah sungai. Ia berhenti dan menyipitkan mata untuk menatap makhluk itu lebih jelas. Didengarnya nada pedih dalam suara burung itu. Tampaknya burung gagak itu sedang mengincar seekor tikus. Sejenak dipandanginya makhluk malam itu saat ia mendudukkan diri di tepi sungai, bersandar pada sebatang pohon. Tiba-tiba, ia merasa ngeri pada tatapan tajam mata burung itu, dan lebih memilih untuk beranjak pergi ketimbang bersitatap dengan makhluk malam itu dengan perasaan gamang.. Dalam kegelapan malam di belakangnya, didengarnya makhluk itu kembali memekik dan melayang pergi. Jalan setapak ke depannya tampak berliku seolah menuju bintang-bintang. Pepohonan dan lembah dan ingatan pada moncong-moncong bedil mengabur di belakangnya.
Orang-orang yang mengejarnya mendengus kesal. Lelaki itu tidak ditemukan. Ia bersembunyi di balik kabut yang pekat. Dari kereta-kereta kuda yang membawa peti mati. Dari suara letusan pistol dan bedil yang kapan saja menghunus jantungnya.
Lelaki itu menenangkan pikirannya. Bernafas lega pada sebuah pohon besar dengan akar yang menjuntai ke tanah. Tak perduli setan-setan bergentayangan di antara lelah dan kantuknya.
Ia terbaring menunggu hari esok.
Laki-laki itu tersaruk-saruk berlari di kerumunan kabut tebal. Ia terus berlari hingga kabut memudar. Kini ia bisa sedikit menenangkan pikirannya yang membuncah. Tetapi tiba-tiba didengarnya seekor burung gagak memekik di dahan sebuah pohon yang cabangnya menjulur ke arah sungai. Ia berhenti dan menyipitkan mata untuk menatap makhluk itu lebih jelas. Didengarnya nada pedih dalam suara burung itu. Tampaknya burung gagak itu sedang mengincar seekor tikus. Sejenak dipandanginya makhluk malam itu saat ia mendudukkan diri di tepi sungai, bersandar pada sebatang pohon. Tiba-tiba, ia merasa ngeri pada tatapan tajam mata burung itu, dan lebih memilih untuk beranjak pergi ketimbang bersitatap dengan makhluk malam itu dengan perasaan gamang.. Dalam kegelapan malam di belakangnya, didengarnya makhluk itu kembali memekik dan melayang pergi. Jalan setapak ke depannya tampak berliku seolah menuju bintang-bintang. Pepohonan dan lembah dan ingatan pada moncong-moncong bedil mengabur di belakangnya.
Orang-orang yang mengejarnya mendengus kesal. Lelaki itu tidak ditemukan. Ia bersembunyi di balik kabut yang pekat. Dari kereta-kereta kuda yang membawa peti mati. Dari suara letusan pistol dan bedil yang kapan saja menghunus jantungnya.
Lelaki itu menenangkan pikirannya. Bernafas lega pada sebuah pohon besar dengan akar yang menjuntai ke tanah. Tak perduli setan-setan bergentayangan di antara lelah dan kantuknya.
Ia terbaring menunggu hari esok.
***
Perempuan itu masih menutup mata. Seorang gadis berkulit putih anak seorang jenderal. Ia tidur dan tidak bangun lagi ketika sebuah mesiu bersarang di jantungnya. Seorang lelaki dengan pelipis terkoyak telah membunuhnya kemarin sore.
Perempuan itu memakai gaun berenda dengan bunga bertaburan di belahan dadanya. Bunga-bunga itu menjadi rona manis terakhir yang membungkus tubuhnya dalam tabela. Wajah perempuan itu terlihat pasi lantaran dera lara, seperti rembulan tanpa cahaya yang membulat purna. Lelaki yang tega membuat ia tertidur pulas sudah melarikan diri. Konon lelaki itu dijejali dengan emosi dan kecemburuan yang membabi buta.
Hah, intrik perselingkuhan dan cinta nan bertepuk sebelah tangan telah menggelapkan matanya!
Lelaki itu, ia masih berada di tepi sungai dan masih tertidur di bawah rindang pohon beringin. Keciprat air sungai terdengar merdu hingga membangunkannya dari tidur. Matannya mengerjap beberapa kali. Sudah terang, matahari sudah meninggi. Bola api dengan sinar merah, kuning dan jingga itu membakar kulitnya. Namun ia tak bergeming dari tempatnya. Orang yang terus memburunya pasti masih berkeliaran di seputar hutan.
Ia telah mendengar cerita tentang perempuan yang tewas bermandi darah. Sebuah besi panas telah menggerogotinya hingga ia terlempar jauh dari muka bumi.
Senja kembali mematuk. Matahari mengecupi langit yang semakin kelabu. Lembayung terbesit di muara. Malam pun kembali bergelayut. Ini saat yang tepat untuk melarikan dari dari orang-orang berbedil dan bersenapan.
Kabut kembali menyelimuti di sebagian hutan. Menyeruak hingga pekat. Seekor anjing menggonggong ribut. Lolongan yang pedih telah memudarkan hatinya. Kenapa suara anjing itu sangat mengerikan. Lelaki itu begidik. Kemudian lelaki itu mengatupkan geraham saat ia mendaki bukit. Lalu dengan gerakan segesit kijang, ia melompat ke arah kabut yang memecah di tengah jalan bercabang tiga. Peduli setan dengan bintang-bintang! batinnya. Dan ia pun berjalan menuju kegelapan yang semakin pekat. Jalan terasa tak berujung.
Dari kejauhan ia melihat orang-orang berkerumun pada sebuah pohon besar. Dimana ia telah beristirahat kemarin. Tetapi kenapa ia kembali lagi ke tempat itu. Lelaki itu mempertajam pandangannya. Ia melihat ibu dan anaknya ikut menangis dan meratapi seseorang yang terbujur kaku di atas rerumputan.
Obor-obor telah terang menyala.
Lelaki itu berusaha mendekat agar ia tahu siapa yang ditangisi ibu dan anaknya. Namun orang-orang yang berkerumum sangat padat hingga ia tidak bias melihat sama sekali.
"Lindu... kenapa kau tinggalkan Ibu, Nak!" Suara perempuan paruh baya meratap. Menangis meraung-raung seperti anjing hutan yang melolong-lolong.
Lindu? Bukankah itu namaku?! tanya lelaki itu dalam hati.
Laki-laki itu tercekat. Ia berusaha menerobos gerombolan orang yang memagari mayat yang mirip dengannya. Dan lelaki itu pun terpaku ketika ia melihat sesosok mayat yang amat sangat mirip dengannya. Dengan bekas luka tembakan di keningnya. Mengucurkan darah yang kental.
Lelaki itu kembali berlari sambil berteriak seperti lolongan anjing. Berangsur ia teringat kejadian miris tak lama berselang. Malam tadi saat ia tertidur pulas, beberapa orang yang mengejarnya menghunuskan senjata api di keningnya. Dan lelaki itu pun tewas di akhir sebuah letusan nyaring.
Lelaki itu kembali berlari menuju kabut yang tebal. Kabut-kabut itu berubah hitam pekat. Bahkan ia tidak merasakan lagi tusukan-tusukan batu runcing yang menembus kakinya.
Ia terus melayang dan melayang di antara halimun dan kekabut. ©
Perempuan itu memakai gaun berenda dengan bunga bertaburan di belahan dadanya. Bunga-bunga itu menjadi rona manis terakhir yang membungkus tubuhnya dalam tabela. Wajah perempuan itu terlihat pasi lantaran dera lara, seperti rembulan tanpa cahaya yang membulat purna. Lelaki yang tega membuat ia tertidur pulas sudah melarikan diri. Konon lelaki itu dijejali dengan emosi dan kecemburuan yang membabi buta.
Hah, intrik perselingkuhan dan cinta nan bertepuk sebelah tangan telah menggelapkan matanya!
Lelaki itu, ia masih berada di tepi sungai dan masih tertidur di bawah rindang pohon beringin. Keciprat air sungai terdengar merdu hingga membangunkannya dari tidur. Matannya mengerjap beberapa kali. Sudah terang, matahari sudah meninggi. Bola api dengan sinar merah, kuning dan jingga itu membakar kulitnya. Namun ia tak bergeming dari tempatnya. Orang yang terus memburunya pasti masih berkeliaran di seputar hutan.
Ia telah mendengar cerita tentang perempuan yang tewas bermandi darah. Sebuah besi panas telah menggerogotinya hingga ia terlempar jauh dari muka bumi.
Senja kembali mematuk. Matahari mengecupi langit yang semakin kelabu. Lembayung terbesit di muara. Malam pun kembali bergelayut. Ini saat yang tepat untuk melarikan dari dari orang-orang berbedil dan bersenapan.
Kabut kembali menyelimuti di sebagian hutan. Menyeruak hingga pekat. Seekor anjing menggonggong ribut. Lolongan yang pedih telah memudarkan hatinya. Kenapa suara anjing itu sangat mengerikan. Lelaki itu begidik. Kemudian lelaki itu mengatupkan geraham saat ia mendaki bukit. Lalu dengan gerakan segesit kijang, ia melompat ke arah kabut yang memecah di tengah jalan bercabang tiga. Peduli setan dengan bintang-bintang! batinnya. Dan ia pun berjalan menuju kegelapan yang semakin pekat. Jalan terasa tak berujung.
Dari kejauhan ia melihat orang-orang berkerumun pada sebuah pohon besar. Dimana ia telah beristirahat kemarin. Tetapi kenapa ia kembali lagi ke tempat itu. Lelaki itu mempertajam pandangannya. Ia melihat ibu dan anaknya ikut menangis dan meratapi seseorang yang terbujur kaku di atas rerumputan.
Obor-obor telah terang menyala.
Lelaki itu berusaha mendekat agar ia tahu siapa yang ditangisi ibu dan anaknya. Namun orang-orang yang berkerumum sangat padat hingga ia tidak bias melihat sama sekali.
"Lindu... kenapa kau tinggalkan Ibu, Nak!" Suara perempuan paruh baya meratap. Menangis meraung-raung seperti anjing hutan yang melolong-lolong.
Lindu? Bukankah itu namaku?! tanya lelaki itu dalam hati.
Laki-laki itu tercekat. Ia berusaha menerobos gerombolan orang yang memagari mayat yang mirip dengannya. Dan lelaki itu pun terpaku ketika ia melihat sesosok mayat yang amat sangat mirip dengannya. Dengan bekas luka tembakan di keningnya. Mengucurkan darah yang kental.
Lelaki itu kembali berlari sambil berteriak seperti lolongan anjing. Berangsur ia teringat kejadian miris tak lama berselang. Malam tadi saat ia tertidur pulas, beberapa orang yang mengejarnya menghunuskan senjata api di keningnya. Dan lelaki itu pun tewas di akhir sebuah letusan nyaring.
Lelaki itu kembali berlari menuju kabut yang tebal. Kabut-kabut itu berubah hitam pekat. Bahkan ia tidak merasakan lagi tusukan-tusukan batu runcing yang menembus kakinya.
Ia terus melayang dan melayang di antara halimun dan kekabut. ©
