SELAMAT DATANG DI WEBSITE KIMIA EPI SUHENDI

Senin, 25 Oktober 2010

puisi


 Lelaki yang Berlindung di Balik Kabut


Entah sudah berapa langkah ia berlari. Menembus semak belukar. Berlari menuju hutan gelap dan kabut tebal. Melewati tebing dan terjal. Mengarungi sungai-sungai kecil yang terlihat tenang. Namun ombak berkerjaran menerpanya. Ia terus berlari entah kemana. Tak peduli cadas dan duri menusuk kakinya. Ia berusaha menyelamatkan diri dari teriakan orang-orang yang mengejarnya.
Lelaki itu bersembunyi di balik rerimbunan semak belukar. Dengan dengus nafas yang perlahan dan ditahan. Ia bisa mendengar pekikan orang-orang bersenjata itu. Dan akhirnya orang-orang itu memutuskan untuk turun menyeberangi lembah.
Di balik sebatang pohon, ia mengintip ke arah ladang di mana mereka sedang berlarian dengan terburu-buru seperti sekawan anjing liar yang akan menerkam mangsanya tanpa ampun. Seperti sosok serigala dari balik kabut-kabut tebal di perbukitan. Lambat laun sosok mereka menghilang ditelan kabut yang muncul tiba-tiba dari langit biru berhias bulan dan bintang-bintang. Kabut menyembunyikan mereka dari pandangan matanya.
Lelaki itu menyusuri semak belukar di kaki bukit, mencoba memintas ke seberang bukit. Ia membayangkan semangkuk kuah hangat dan segelas kopi buatan istrinya. Ia membayangkan istrinya yang tengah berdiri mematung. Menyambutnya dengan senyum yang tersungging dari bibirnya. Ia membayangkan rambut istrinya itu yang ikal bergelombang.
Lelaki itu berlari lagi.
***
Ia tercekat ketika sebuah suara senapan laras panjang menggaduh di angkasa. Membuat suara binatang malam membias bisu. Tercekat ketika suara burung hantu memecah di keheningan. Suara burung hantu bagaikan sosok malaikan pencabut maut. Mencabik jantung dan nyawa setiap manusia.
Laki-laki itu tersaruk-saruk berlari di kerumunan kabut tebal. Ia terus berlari hingga kabut memudar. Kini ia bisa sedikit menenangkan pikirannya yang membuncah. Tetapi tiba-tiba didengarnya seekor burung gagak memekik di dahan sebuah pohon yang cabangnya menjulur ke arah sungai. Ia berhenti dan menyipitkan mata untuk menatap makhluk itu lebih jelas. Didengarnya nada pedih dalam suara burung itu. Tampaknya burung gagak itu sedang mengincar seekor tikus. Sejenak dipandanginya makhluk malam itu saat ia mendudukkan diri di tepi sungai, bersandar pada sebatang pohon. Tiba-tiba, ia merasa ngeri pada tatapan tajam mata burung itu, dan lebih memilih untuk beranjak pergi ketimbang bersitatap dengan makhluk malam itu dengan perasaan gamang.. Dalam kegelapan malam di belakangnya, didengarnya makhluk itu kembali memekik dan melayang pergi. Jalan setapak ke depannya tampak berliku seolah menuju bintang-bintang. Pepohonan dan lembah dan ingatan pada moncong-moncong bedil mengabur di belakangnya.
Orang-orang yang mengejarnya mendengus kesal. Lelaki itu tidak ditemukan. Ia bersembunyi di balik kabut yang pekat. Dari kereta-kereta kuda yang membawa peti mati. Dari suara letusan pistol dan bedil yang kapan saja menghunus jantungnya.
Lelaki itu menenangkan pikirannya. Bernafas lega pada sebuah pohon besar dengan akar yang menjuntai ke tanah. Tak perduli setan-setan bergentayangan di antara lelah dan kantuknya.
Ia terbaring menunggu hari esok.
***
Perempuan itu masih menutup mata. Seorang gadis berkulit putih anak seorang jenderal. Ia tidur dan tidak bangun lagi ketika sebuah mesiu bersarang di jantungnya. Seorang lelaki dengan pelipis terkoyak telah membunuhnya kemarin sore.
Perempuan itu memakai gaun berenda dengan bunga bertaburan di belahan dadanya. Bunga-bunga itu menjadi rona manis terakhir yang membungkus tubuhnya dalam tabela. Wajah perempuan itu terlihat pasi lantaran dera lara, seperti rembulan tanpa cahaya yang membulat purna. Lelaki yang tega membuat ia tertidur pulas sudah melarikan diri. Konon lelaki itu dijejali dengan emosi dan kecemburuan yang membabi buta.
Hah, intrik perselingkuhan dan cinta nan bertepuk sebelah tangan telah menggelapkan matanya!
Lelaki itu, ia masih berada di tepi sungai dan masih tertidur di bawah rindang pohon beringin. Keciprat air sungai terdengar merdu hingga membangunkannya dari tidur. Matannya mengerjap beberapa kali. Sudah terang, matahari sudah meninggi. Bola api dengan sinar merah, kuning dan jingga itu membakar kulitnya. Namun ia tak bergeming dari tempatnya. Orang yang terus memburunya pasti masih berkeliaran di seputar hutan.
Ia telah mendengar cerita tentang perempuan yang tewas bermandi darah. Sebuah besi panas telah menggerogotinya hingga ia terlempar jauh dari muka bumi.
Senja kembali mematuk. Matahari mengecupi langit yang semakin kelabu. Lembayung terbesit di muara. Malam pun kembali bergelayut. Ini saat yang tepat untuk melarikan dari dari orang-orang berbedil dan bersenapan.
Kabut kembali menyelimuti di sebagian hutan. Menyeruak hingga pekat. Seekor anjing menggonggong ribut. Lolongan yang pedih telah memudarkan hatinya. Kenapa suara anjing itu sangat mengerikan. Lelaki itu begidik. Kemudian lelaki itu mengatupkan geraham saat ia mendaki bukit. Lalu dengan gerakan segesit kijang, ia melompat ke arah kabut yang memecah di tengah jalan bercabang tiga. Peduli setan dengan bintang-bintang! batinnya. Dan ia pun berjalan menuju kegelapan yang semakin pekat. Jalan terasa tak berujung.
Dari kejauhan ia melihat orang-orang berkerumun pada sebuah pohon besar. Dimana ia telah beristirahat kemarin. Tetapi kenapa ia kembali lagi ke tempat itu. Lelaki itu mempertajam pandangannya. Ia melihat ibu dan anaknya ikut menangis dan meratapi seseorang yang terbujur kaku di atas rerumputan.
Obor-obor telah terang menyala.
Lelaki itu berusaha mendekat agar ia tahu siapa yang ditangisi ibu dan anaknya. Namun orang-orang yang berkerumum sangat padat hingga ia tidak bias melihat sama sekali.
"Lindu... kenapa kau tinggalkan Ibu, Nak!" Suara perempuan paruh baya meratap. Menangis meraung-raung seperti anjing hutan yang melolong-lolong.
Lindu? Bukankah itu namaku?! tanya lelaki itu dalam hati.
Laki-laki itu tercekat. Ia berusaha menerobos gerombolan orang yang memagari mayat yang mirip dengannya. Dan lelaki itu pun terpaku ketika ia melihat sesosok mayat yang amat sangat mirip dengannya. Dengan bekas luka tembakan di keningnya. Mengucurkan darah yang kental.
Lelaki itu kembali berlari sambil berteriak seperti lolongan anjing. Berangsur ia teringat kejadian miris tak lama berselang. Malam tadi saat ia tertidur pulas, beberapa orang yang mengejarnya menghunuskan senjata api di keningnya. Dan lelaki itu pun tewas di akhir sebuah letusan nyaring.
Lelaki itu kembali berlari menuju kabut yang tebal. Kabut-kabut itu berubah hitam pekat. Bahkan ia tidak merasakan lagi tusukan-tusukan batu runcing yang menembus kakinya.
Ia terus melayang dan melayang di antara halimun dan kekabut. ©

OKSIDASI


Konsep oksidasi-reduksi

Pentingnya reaksi oksidasi-reduksi dikenali sejak awal kimia. Dalam oksidasi-reduksi, suatu entitas diambil atau diberikan dari dua zat yang bereaksi. Situasinya mirip dengan reaksi asam basa. Singkatnya, reaksi oksidasi-reduksi dan asam basa merupakan pasangan sistem dalam kimia. Reaksi oksidasi reduksi dan asam basa memiliki nasib yang sama, dalam hal keduanya digunakan dalam banyak praktek kimia sebelum reaksi ini dipahami. Konsep penting secara perlahan dikembangkan: misalnya, bilangan oksidasi, oksidan (bahan pengoksidasi), reduktan (bahan pereduksi), dan gaya gerak listrik, persamaan Nernst, hukum Faraday tentang induksi elektromegnet dan elektrolisis. Perkembangan sel elektrik juga sangat penting. Penyusunan komponen reaksi oksidasi-reduksi merupakan praktek yang penting dan memuaskan secara intelektual. Sel dan elektrolisis adalah dua contoh penting, keduanya sangat erat dengan kehidupan sehari-hari dan dalam industri kimia.

a. Penemuan oksigen

Karena udara mengandung oksigen dalam jumlah yang besar, kombinasi antara zat dan oksigen, yakni oksidasi, paling sering berlangsung di alam. Pembakaran dan perkaratan logam pasti telah menatik perhatian orang sejak dulu. Namun, baru di akhir abad ke- 18 kimiawan dapat memahami pembakaran dengan sebenarnya. Pembakaran dapat dipahami hanya ketika oksigen dipahami. Sampai doktrin Aristoteles bahwa udara adalah unsur dan satu-satunya gas ditolak, mekanisme oksidasi belum dipahami dengan benar. Kemungkinan adanya gas selain udara dikenali oleh Helmont sejak awal abad ke-17. Metoda untuk memisahkan gas tak terkontaminasi dengan uap menggunakan pompa pneumatik dilaporkan oleh Hales di sekitar waktu itu. Namun, walau telah ada kemajuan ini, masih ada satu miskonsepsi yang menghambat pemahaman peran oksigen dalam pembakaran. Miskonsepsi ini adalah teori flogiston yang telah disebutkan di Bab 1. Teori ini dinyatakan oleh dua kimiawan Jerman, Georg Ernst Stahl (1660-1734) dan Johann Joachim Becher. Menurut teori ini, pembakaran adalah proses pelepasan flogiston dari zat yang terbakar. Asap yang muncul dari kayu terbakar dianggap bukti yang baik teori ini. Massa abu setelah pembakaran lebih ringan dari massa kayu dan ini juga konsisten dengan teori flogiston. Namun, ada kelemahan utama dalam teori ini. Residu (oksida logam) setelah pembakaran logam lebih berat dari logamnya. Priestley dan Scheele, yang menemukan oksigen di akhir abad ke-18, adalah penganut teori flogiston . Jadi mereka gagal menghayati peran oksigen dalam pembakaran. Sebaliknya, Lavoiseur, yang tidak terlalu mengenali teori ini, dengan benar memahamo peran oksigen dan mengusulkan teori pembakaran baru yakni oksidasi atau kombinasi zat terbakar dengan oksigen.Ia mendukung teroinya dengan percobaan yang akurat dan kuantitatif yang jauh lebih baik dari standar waktu itu. Ia menyadari bahwa penting untuk memperhatikan kuantitas gas yang terlibat dalam reaksi untuk memahami reaksi kimia dengan cara kuantitatif. Jadi ia melakukan reaksinya dalam wadah tertutup. Peran oksigen dalam pembakaran dikenali Lavoiseur; oksidasi-reduksi didefinisikan sebagai beriku.Oksidasi-reduksi dan oksigen Oksidasi: menerima oksigen Reduksi: mendonorkan oksigen

b. Peran hidrogen

Ternyata tidak semua reaksi oksidasi dengan senyawa organik dapat dijelaskan dengan pemberian dan penerimaan oksigen. Misalnya, walaupun reaksi untuk mensintesis anilin dengan mereaksikan nitrobenzen dan besi dengan kehadiran HCl adalah reaksi oksidasi reduksi dalam kerangka pemberian dan penerimaan oksigen, pembentukan CH3CH3 dengan penambahan hidrogen pada CH2=CH2, tidak melibatkan pemberian dan penerimaan oksigen. Namun, penambahan hidrogen berefek sama dengan pemberian oksigen. Jadi, etena direduksi dalam reaksi ini. Dengan kata lain, juga penting mendefinisikan oksidasi-reduksi dalam kerangka pemberian dan penerimaan hidrogen.
Oksidasi-reduksi dan hidrogen
Oksidasi: mendonorkan hidrogen
Reduksi: menerima hidrogen

b. Peran elektron

Pembakaran magnesium jelas juga reaksi oksidasi-reduksi yang jelas melibatkan pemberian dan penerimaan oksigen.
2Mg + O2 –> 2MgO (10.1)
Reaksi antara magnesium dan khlorin tidak diikuti dengan pemberian dan penerimaan oksigen.
Mg + Cl2 –> MgCl2 (10.2)
Namun, mempertimbangkan valensi magnesium, merupakan hal yang logis untuk menganggap kedua reaksi dalam kategori yang sama. Memang, perubahan magnesium, Mg –> Mg2++ 2e- , umum untuk kedua reaksi, dan dalam kedua reaksi magnesium dioksidasi. Dalam kerangka ini, keberlakuan yang lebih umum akan dicapai bila oksidasi-reduksi didefinisikan dalam kerangka pemberian dan penerimaan elektron.

Oksidasi-reduksi dan elektron

Oksidasi: mendonorkan elektron
Reduksi: menerima elektron
Bila kita menggunakan definisi ini, reaksi oksidasi-reduksi dapat dibagi menjadi dua, satu adalah reaksi oksidasi, dan satunya reaksi reduksi. Jadi,
Mg –> Mg2+ + 2 e- (mendonorkan elektron –> dioksidasi) (10.3)
Cl2 + 2e—> 2Cl- (menerima elektron –> direduksi) (10.4)
Masing-masing reaksi tadi disebut setengah reaksi. Akan ditunjukkan bahwa reaksi oksidasi reduksi biasanya paling mudah dinyatakan dengan setengah reaksi (satu untuk oksidan dan satu untuk reduktan).
Contoh soal 10.1 Konstruksi persamaan reaksi oksidasi-reduksi
Tuliskan reaksi oksidasi asam oksalat (COOH)2 menghasilkan CO2 dan air dengan tiga cara; serah terima oksigen, hidrogen dan elektron. Isilah titik-titik dengan rumus kimia dan koefisien yang tepat.
  1. oksigen: (COOH)2+(O) –> ….+….
  2. hidrogen: (COOH)2 –> 2H + ……
  3. elektron: (COOH)2–> 2e- + …..+ …….
Jawab
  1. oksigen: H2O terbentuk dari dua H dari asam oksalat dan satu O dari oksidan (COOH)2+(O) –> 2 CO2 + H2O
  2. hidrogen: secara formal asam oksalat memberikan dua hidrogen dan CO2 (COOH)2 –>2H + 2CO2
  3. elektron: metoda untuk menyusun reaksi jenis ini akan dibahas selanjutnya (COOH)2–>2e- + 2CO2 + 2H+

d. Oksidan dan reduktan (bahan pengoksidasi dan pereduksi)

Oksidasi reduksi seperti dua sisi dari selembar kertas, jadi tidak mungkin oksidasi atau reduksi berlangsung tanpa disertai lawannya. Bila zat menerima elektron, maka harus ada yang mendonorkan elektron tersebut.
Dalam oksidasi reduksi, senyawa yang menerima elektron dari lawannya disebut oksidan (bahan pengoksidasi sebab lawannya akan teroksidasi. Lawan oksidan, yang mendonorkan elektron pada oksidan, disebut dengan reduktan (bahan pereduksi) karena lawannya (oksidan tadi tereduksi.
Di antara contoh di atas, magnesium, yang memberikan elektron pada khlorin, adalah reduktan, dan khlorin, yang menerima elektron dari magnesium, adalah reduktan. Umumnya, unsur elektropositif seperti logam alkali dan alkali tanah adalah reduktan kuat; sementara unsur elektronegatif seperti khlorin adalah oksidan yang baik.
Suatu senyawa dapat berlaku sebagai oksidan dan juga reduktan. Bila senyawa itu mudah mendonorkan elektron pada lawannya, senyawa ini dapat menjadi reduktan. Sebaliknya bila senyawa ini mudah menerima elektron, senyawa itu adalaj oksidan. Tabel 10.1, mendaftarkan setengah reaksi oksidan dan reduktan yang umum.
Tabel 10.1 Beberapa oksidan dan reduktan
Oksidan

I2(aq) + 2 e-–> 2I-(aq)
Br2(aq) + 2e-–> 2Br-(aq)
Cr2O72-(aq) + 14H+(aq) + 6e-–> 2Cr3+(aq) + 7H2O(l)
Cl2(aq) + 2e-–> 2Cl-(aq)
MnO4 -(aq) + 8H+(aq) + 5e-–> Mn2+(aq) + 4H2O(l)
S2O82-(aq) + 2e-–> 2SO42-(aq)
Reduktan

Zn(s) –> Zn2+(aq) + 2e-
H2(g) –> 2H+(aq) + 2e-
H2S(aq) –> 2H+(aq) + S(s) + 2e-
Sn2+(aq) –> Sn4+(aq) + 2e-
Fe2+(aq) –> Fe3+(aq) + e-

e. Bilangan oksidasi

Besi adalah reduktan yang baik dan besi menjadi Fe2+ atau Fe3+ bergantung kondisi reaksi.
Fe –> Fe2+ +2e- (10.5)
Fe –> Fe3+ +3e- (10.6)
Jadi, penting untuk menyatakan dengan jelas jumlah elektron yang diserahkan atau diterima. Untuk keperluan ini, suatu parameter, bilangan oksidasi didefinisikan. Bilangan oksidasi untuk unsur monoatomik adalah muatan atom tersebut. Bilangan oksidasi Fe, Fe2+ dan Fe3+ adalah 0, +2 dan +3.
Untuk memperluas konsep bilangan oksidasi pada molekul poliatomik, penting untuk mengetahui distribusi elektron dalam molekul dengan akurat. Karena hal ini sukar, diputuskan bahwa muatan formal diberikan pada tiap atom dengan menggunakan aturan tertentu, dan bilangan oksidasi didefinisikan berdasarkan muatan formal. Ringkasan definisinya diberikan sebagai berikut.

Definsi bilangan oksidasi

1.      bilangan oksidasi unsur (termasuk alotrop) selalu 0.
2.      bilangan oksidasi oksigen adalah -2 kecuali dalam peroksida, -1.
3.      bilangan oksidasi hidrogen adalah +1 kecuali dalam hidrida logam -1.
4.      bilangan oksidasi logam alkali +1 dan logam alkali tanah +2.
5.      Untuk ion dan molekul poliatomik, bilangan oksidasi setiap atom didefinisikan sehingga jumlahnya sama dengan muatannya.
Contoh soal 10.2 penentuan bilangan oksidasi
Dalam peleburan timbal dari bijihnya (timbal sulfida) reaksi reduksi oksidasi dua tahap berikut terjadi. Tunjukkan oksidan dan reduktan dalam reaksi ini dan tentukan bilangan oksidasi masingmasing atomnya.
Jawab
Bilangan oksidasi masing-masing atom ditandai di bawah simbol atomnya.
2PbS(s)
+
3O2(g)
–>
2PbO(s)
+
2SO2(g)

+2 -2

0

+2 -2

+4 -2


PbO(s)
+
CO(g)
–>
Pb(s)
+
CO2(g)

+2 -2

+2 -2

0

+4 -2

Tahap pertama reaksi, bilangan oksidasi S berubah dari -2 ke +4, dengan demikian S dioksidasi. Jadi PbS adalah reduktan. Bilangan oksidasi O turun dari 0 ke -2. Jadi oksigen adalah oksidan. Di tahap kedua, bilangan oksidasi C berubah dari +2 ke +4, dan dengan demikian C dioksidasi. Jadi CO adalah reduktan. Bilangan oksidasi Pb turun dari +2 ke 0. Jadi PbO adalah oksidan. Dalam peleburan logam semacam besi, CO sering menjadi reduktan.

f. Penyusunan persamaan reduksi oksidasi

Persamaan oksidasi reduksi seperti dalam Tabel 10.1 dapat dengan mudah dibuat dengan prosedur berikut.
Penyusunan setengah reaksi oksidasi reduksi
  1. Tuliskan persamaan perubahan oksida dan reduktan.
  2. Setarakan jumlah oksigen di kedua sisi persamaan dengan menambahkan sejumlah tepat H2O.
  3. Setarakan jumlah hidrogen di kedua sisi persamaan dengan penambahan jumlah H+ yang tepat.
  4. Setarakan muatannya dengan menambahkan sejumlah elektron.
Sekali setengah reaksi telah disusun, mudah untuk menyusun persamaan reduksi oksidasi keseluruhan. Dalam oksidasi reduksi, penurunan bilangan oksidasi oksidan dan kenaikan bilangan oksidasi reduktan harus sama. Hal ini sama dengan hubungan ekivalen dalam reaksi asam basa.
Penyusunan reaksi oksidasi reduksi total
  1. Pilihlah persamaan untuk oksidan dan reduktan yang terlibat dalam reaksi, kalikan sehingga jumlah elektron yang terlibat sama.
  2. Jumlahkan kedua reaksi (elektronnya akan saling meniadaka).
  3. Ion lawan yang mungkin muncul dalam persamaan harus ditambahkan di kedua sisi persamaan sehingga kesetaraan bahan tetap dipertahankan

Sebagai contoh, reaksi oksidasi iodin dengan kalium permanganat KMnO4 adalah sebagai berikut.
(1) persamaan untuk oksidan
1.      MnO4 - –> Mn2+
2.      MnO4- –> Mn2+ + 4H2O
3.      MnO4- +8H+–> Mn2+ + 4H2O
4.      MnO4- +8H+ + 5e- –> Mn2+ + 4H2O (setengah reaksi) (10.5)
(2) persamaan untuk reduktan
1.      I- –> 1/2 I2
2.      I- –> 1/2 I2 + e-
2I- –> I2 + 2e- (setengah reaksi) (10.6) Catat bahwa reaksi kedua ini dikalikan dua untuk menghindari pecahan.
(3) Jumlah reaksi oksidan dan reduktan
1.      2MnO4- + 16H+ +10e- –> 2Mn2+ + 8H2O
10I- –> 5I2 + 10e-
2.      2MnO4- + 16H+ + 10I- –> 2Mn2+ + 5I2 + 8H2O (reaksi keseluruhan) (10.7)
Lihat jumlah elektronnya akan saling meniadakan.
3.      2KMnO4 + 8H2SO4+ 10KI –> 2MnSO4+ 5I2 + 8H2O + 6K2SO4 (10.8)
Persamaan di atas didapatkan dengan menambahkan sejumlah ion lawan ke kedua sisi persamaan sehingga semua ion yang terlibat akan melengkapi persamaan okisdasi reduksi ini.
Contoh soal 10.3 Oksidasi toluen
C6H5CH3 dioksidasi menjadi asam benzoat C6H5COOH dengan KMnO4 dalam H2SO4.
Tuliskan persamaan oksidasi reduksinya.
Jawab
Persamaan untuk oksidannya telah diberikan di atas.
Persamaan bagi reduktan (toluen) diperoleh sebagai berikut.
a) C6H5CH3 + 2H2O –> C6H5COOH
b) C6H5CH3 + 2H2O –> C6H5COOH + 6H+
c) C6H5CH3 + 2H2O –> C6H5COOH + 6H++6e-
d) persamaan untuk oksidan ini dikalikan 6, dan untuk reduktan dikalikan 5 sehingga jumlah elektron yang terlibat di kedua reaksi identik (= 30).
f) Jumlah dua reaksi (elektron akan saling meniadakan)
6MnO4- + 48 H+ +30e-–> 6Mn2+ + 24H2O 5C6H5CH3 + 10H2O –> 5C6H5COOH + 30H++30e-
5C6H5CH3 +6MnO4- + 18 H+–> 5C6H5COOH + 6Mn+2
g) 6 K+ + 9 SO4-2 ditambahkan kedua sisi untuk melengkapi reaksi.
5C6H5CH3 + 6KMnO4 + 9H2SO4 –> 5C6H5COOH + 6Mn SO4 + 3K2SO4+ 14H2O

Stoikiometri oksidasi reduksi

Jumlah kuantitatif oksidan dan reduktan sehingga reaksi oksidasi reduksi oksidasi lengkap mirip dengan stoikiometri asam basa.
Stoikiometri oksidasi reduksi
noMoVo = nRMRVR
jumlah mol elektron yang diterima = jumlah mol elektron yang diserahkan
subskrip O dan R adalah oksidan dan reduktan, n adalah perubahan bilangan oksidasi, M konsentrasi molar dan V volume oksidan dan reduktan.
Prinsip yang terlibat dalam titrasi oksidasi reduksi secara prinsip identik dengan dalam titrasi asam basa. Dalam titrasi reduksi oksidasi, pilihan indikatornya untuk menunjukkan titik akhir terbatas. Kadang hantaran larutan digunakan sebagai indikator.
Contoh soal 10.4 Konsentrasi hidrogen peroksida
Larutan hidrogen peroksida komersial H2O2 diencerkan 150 kali. 25,0 cm3 sampel larutan dititrasi dengan larutan KMnO4 0,02 mol dm-3, dan 26,3 cm3 diperlukan untuk mencapai titik akhir. Hitung konsentrasi molar (mol dm-3) H2O2.
Jawab
Hidrogen peroksida berperan sebagai reduktan dalam reaksi ini, setengah reaksinya adalah
H2O2 –> O2 + 2H+ + 2e-
Ini berarti 5 mol H2O2 dan 2 mol KMnO4 ekivalen satu sama lain. Konsentrasi molar MR hidrogen peroksida dihitung sebagai berikut.
5 x 0,02 (mol dm-3) x 26,3 x 10-3 (dm3)= [2 x MR (mol dm-3) x 25,0 x 10-3 (dm3)]/150
MR = 7,89 (mol dm-3)

Jumat, 22 Oktober 2010

ZAT ADITIF MAKANAN


ZAT ADITIF PADA MAKANAN

A.    PENGERTIAN ZAT ADITIF

Zat aditif adalah zat yang biasa ditambahkan kedalam suatu jenis makanan atau minuman, sehingga makanan atau minuman tersebut lebih menarik. Umumnya, zat aditif tidak memiliki nilai gizi. Zat ini berfungsi untuk mengawetkan makanan, menambah rasa dan aroma, dan mempermudah proses pembuatan makanan ataupun minuman.
Pada zaman dulu, teknik pengolahan makanan hanya menggunakan bahan-bahan alami, seperti kunyit, cabe, gula, pandan, dsb. Karena manusia tidak hanya puas dengan bahan alami dalam memenuhi kebutuhan dan peningkatan kualitas hidupnya, maka dibuatlah bahan sintesis.
Zat aditif sintesis aman dikonsumsi selama masih dalam ambang batas aman penggunaannya. Batas penggunaan bahan makanan ini, diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 722/Menkes/PER/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan, berdasarkan ADI (Acceptable Daily Intake), yaitu tidak menimbulkan bahaya jika dikonsumsi oleh manusia dengan dasar perhitungan yaitu perkilogram berat badan.

B.     MACAM-MACAM ZAT ADITIF

1.      Zat Pewarna
Adalah bahan yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada makanan agar menarik.
Zat pewarna dibedakan atas zat pewarna alami dan zat pewarna buatan.
a.       Zat Pewarna Alami
Contoh :
-          Daun pandan dan suji pemberi warna hijau
-          Kunyit pemberi warna kuning
-          Coklat pemberi warna coklat
-          Wortel pemberi warna kuning merah
-          Karamel pemberi warna hitam coklat
b.      Zat Pewarna Buatan
Contoh:
-          Eritrosin pemberi warna merah
Misal: untuk minuman ringan dan makanan cair
-          Hijau FCF
Misal: untuk pemberi warna es krim, buah pir kalengan, jem, jelly, saus apel dan udang kalengan.
-          Kuning FCF pemberi warna kuning
Misal: untuk es krim, yoghurt, jem, jelly.
Hasil penelitian FAO/WHO tidak menetapkan ambang batas pemakaian zat warna tetapi ambang batas konsumsi perhari yang diperkenankan yang dikenal dengan singkatan ADI (Acceptable Daily Intake). Penetapan itu dilakukan setelah terjadi kasus keracunan zat pewarna pada kembang gula dan “popcorn” dengan dosis yang terlalu tinggi. Akibat keracunan itu, anak menderita diare.

2.      Zat Pemutih
Selain zat pewarna makanan kita mengenal zat pemutih makanan. Misalnya: oksidaklor, hydrogen peroksida, benzoil peroksida, dll. Zat pemutih ini baik untuk memperbaiki warna bahan makanan tanpa merusak komposisi bahan makanan. Contoh: tepung yang masih baru biasanya berwarna kuning kecoklat-coklatan atau kuning keabu-abuan. Zat-zat pemutih tersebut dapat digunakan untuk memutihkan tepung tadi. Hidrogen peroksida biasa digunakan untuk memutihkan warna susu yang digunakan untuk membuat keju.
Ada zat pemutih yang memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pemutih warna zat makanan juga sebagai pereaksi untuk menjadikan bahan makanan itu larut dalam air. Misalnya: natrium hipoklorit digunakan agar pati yang tidak larut dalam air menjadi larut dalam air.

3.      Zat Penyedap Rasa dan Pemberi Aroma
Ini sering disebut sebagai zat cita rasa makanan. Misalnya, bumbu-bumbuan yang berasal dari alam, contoh: pala, merica laos, dll.
a.       Zat Penyedap Rasa
Zat penyedap rasa makanan yang paling banyak digunakan adalah MSG (Monosodium glutamat) atau sering disebut Vetsin dan asam cuka. MSG dibuat dari fermentasi tetes tebu dengan bantuan bakteri Micrococcus glutamicus.
Rumus kimia MSG :
                               H 
NaOOCCH2CH2 – C – COOH
                              NH2
Zat penyedap rasa jika penggunaannya berlebihan maka menimbulkan penyakit. Contoh penggunaan MSG di restoran Cina dan Jepang, jika penggunaan MSG berlebihan maka menimbulkan penyakit yang dikenal dengan nama Sindrom Restoran Cina (Chinese Restaurant Syndrome) dengan gejalanya pusing, lelah atau sesak napas.
Contoh penyedap rasa lainnya: natrium/kalium guanilat dan natrium/kalium inosinat.

b.      Zat Pemberi Aroma
Zat pemberi aroma banyak digunakan dari golongan ester dengan rasa atau aroma buah. Kebanyakan zat pemberi aroma digunakan dalam minuman.
Contoh :
1.      Benzaldehida untuk pemberi aroma buah lobi-lobi
2.      Etil butirat untuk pemberi aroma buah nanas
3.      Amil asetat untuk pemberi aroma buah pisang
4.      Amil valerat untuk pemberi aroma buah apel
5.      Isoamil asetat untuk pemberi aroma buah pisang ambon
6.      Isobutil propionat untuk pemberi aroma buah rum
7.      Oktil asetat untuk pemberi aroma buah jeruk
8.      Metil salisilat untuk pemberi aroma minyak gandapura (wintergreen).
9.      Propil asetat untuk pemberi aroma buah pir.

4.      Zat Pemanis
Pemanis buatan adalah zat aditif yang dapat menyebabkan rasa manis pada makanan, tetapi bahan ini tidak mempunyai nilai gizi. Zat manis tidak berkalori dan tidak ikut dalam proses metabolisme tubuh. Oleh Karena itu, bahan ini digunakan sebagai bahan pengganti gula pada penderita kencing manis.
Gula baik yang terbuat dari tebu maupun dari enau atau kelapa diuraikan oleh zat dalam tubuh manusia menjadi glukosa. Glukosa ini dioksidasi oleh oksigen menjadi gas CO2 dan H2O disertai dengan kalor atau tenaga.
Zat pemanis yang tidak menghasilkan kalori ini misalnya:
a.       Sakarin
Sakarin mempunyai tingkat kemanisan 500 kali lebih manis dari gula. Rumus strukturnya sebagai berikut:
O
C
N – H
SO2
b.      Natrium Siklamat
Natrium siklamat mempunyai tingkat kemanisan 50 kali lebih manis dari gula. Zat pemanis jenis ini dicurigai sebagai penyebab kanker Karena hasil metabolisme siklamat merupakan senyawa yang bersifat karsinogen. Adapun hasil penelitian pada tikus menunjukkan ada kemungkinan besar bahwa pembuangan senyawa ini melalui urine dapat merangsang tumbuhnya tumor dalam kemih. Rumus struktur natrium siklamat sebagai berikut :
NH – SO3Na


c.       Sorbitol
Sorbitol merupakan suatu senyawa polihidroksi yang mengandung kalori sama dengan gula. Zat pemanis jenis ini digunakan sebagai pemanis permen. Sorbitol tidak terurai dalam mulut sehingga tidak merusak gigi. Namun, pemakaian yang berlebihan dapat menimbulkan diare. Rumus struktur sorbitol sebagai berikut:
          CH2OH      
H   –  C – OH
          C
HO – C – H
H    – C – OH
H    – C – OH
          CH2OH
d.      Dulsin
Dulsin adalah zat pemanis yang mempunyai tingkat kemanisan 250 kali lebih manis dari gula. Pemanis ini dilarang penggunaannya oleh Depkes RI. Rumus strukturnya sebagai berikut:
    O – CH2 – CH2



    HN – C – NH2
              O
e.       Aspartan
Aspartan merupakan zat pemanis yang mempunyai tingkat kemanisan 200 kali lebih manis dari gula. Rumus strukturnya sebagai berikut :
           H     O   H    O
H2N – C – C – N – C – C – OCH3
         CH3–H–CH2
      COOH
Zat pemanis biasanya digunakan pada pembuatan permen, minuman ringan, es krim, dll.

5.      Zat Pengawet
Zat pengawet adalah bahan yang dapat mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman, atau penguraian makanan oleh mikroorganisme, pengawet alami dapat dilakukan dengan cara memasukan bahan makanan ke dalam garam atau diasinkan
Zat pengawet yang sering digunakan adalah zat pengawet yang mudah dibuat misalnya natrium benzoat, natrium nitrat, asam propianat, dan kalium sorbat. Natrium benzoat digunakan untuk bahan makanan yang mudah basi, benzoat efektif pada pH 2,5-40.
COONa

                                    CH2 – CH = CH – CH = COOK

Na-Benzoat                             k-sorbat
Zat pengawet makanan yang dilarang Departemen Kesehatan adalah formalin, boraks dan asam salisilat
Etilen oksida dan etil format adalah bahan fumigasi yang digunakan untuk menghilangkan hama dari bumbu-bumbuan, kacang-kacangan, dan buah-buahan kering.
Terlalu banyak makan-makanan yang mengandung zat pengawet akan mengurangi daya tahan tubuh terhadap serangan berbagai penyakit.

6.      Zat Pengatur keasaman
Zat pengatur keasaman berfungsi untuk mengasamkan, menetralkan dan mempertahankan derajat keasaman, contoh asam asetat, asam klorida, asam sitrat, dan natrium karbonat.
Pemakaian zat-zat aditif pada makanan yang diperbolehkan mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
a.       Mempertahankan kualitas gizi makanan
b.      Mempertinggi mutu atau stabilitas dengan mengurangi kerusakan makanan
c.       Menambah makanan lebih menarik
d.      Diperlukan dalam proses pengolahan bahan makanan
Zat aditif dapat bersifat racun dan merugikan kesehatan apabila penggunaannya tidak sesuai dengan aturan. Kesalahan yang dapat merugikan berasal dari:
a.       Zat aditif yang digunakan tidak tepat sesuai fungsinya
b.      Pemakaian zat aditif yang over dosis, dan
c.       Pemakaian insektisida di rumah dapat mencemari makanan

7.      Sekuantran
Sekuentran adalah bahan aditif dalam makanan yang dapat mengikat ion-ion logam yang ada dalam makanan dan membentuk senyawa kompleks. Dengan terikatnya ion-ion tersebut dapat dihambat terjadinya proses oksidasi yang dapat menimbulkan perubahan warna dan aroma. Bahan aditif yang berfungsi sebagai sekuantran ialah asam sitrat, asam fosfat dan garamnya, serta kalsium diantrium EDTA (Ethylene Diamine Tetra Atetic Acid).


8.      Anti Oksidan
Minyak dan lemak akan dapat menjadi tengik bila di simpan lama. Ketengikan minyak disebabkan karena oksidasi dari udara. Untuk mencegah ketengikan minyak biasanya digunakan anti oksidan. Contoh anti oksidan adalah asam askorbat (bentuk garam kalium, natrium, dan kalsium) yang digunakan pada daging olahan, kaldu dan buah dalam keemasan kaleng. Butil Hidroksil Anisol (BHA) digunakan untuk lemak dan minyak. Butil Hodroksil Toluene (BHT) digunakan untuk lemak, minyak makan, margarin dan mentega.

9.      Penambah Gizi dan Vitamin
Zat ini adalah bahan aditif dalam makanan yang berupa asam amino, mineral ataupun vitamin. Fungsinya untuk memperbaiki gizi makanan contohnya asam askobat, feri fosfat penyakit tertentu serta pertumbuhan misalnya iodium dan mineral (Ca2+, Mg2+, dan Fe3+)